Suatu proses di tahun 2015.
Awalnya semuanya berjalan baik-baik saja. Walaupun kadang tersandung batu-batu kecil tapi itu tidak membuat kita patah semangat. Canda, tawa, kesal, senang, saling baper, semuanya lengkap.
Hingga suatu hari,
aku 'terpeleset' di proses itu karena 'jalannya yang licin'. 'Sakit' iya, tapi tetap kupaksakan untuk berjalan bersama mereka. Aku memang tak ingin memberitahukan kepada siapapun. Toh nanti juga sembuh sendiri lukanya, toh nanti juga terbiasa dengan rasa 'sakit' ini dan hilang dengan sendirinya.
Hari demi hari, ternyata dugaanku salah. Lama-lama rasa 'sakit' itu makin menganga dan tambah parah. Aku tak kuasa menahan 'sakit'nya. Harus cari jalan keluar! Hingga terbersit untuk 'cabut' saja. Kalau aku bertahan aku bakal merugikan banyak orang. Pun dengan tanggung jawabku yang bakal asal-asalan aku ngerjainnya, bukan dengan sepenuh hati.
Yaa salah satu jalannya hanya 'cabut'. Tapi.. kenapa rasanya berat untuk meninggalkan proses ini. Di satu sisi aku tak ingin melepas proses ini. Di sisi lain, kalau tidak ku lepas aku bakal asal-asalan ngerjain tanggung jawabku. Patutkah aku seperti ini? Walaupun itu juga menyangkut orang di dalamnya? *)
---
Tiba-tiba terdengar suara seseorang memanggilku.
"Itu kan Mbak Yuni! Mbak Yuniii..", teriaknya. Yaa aku kenal suara laki-laki itu.
"Mana-mana? Oh iya! Mbak Yuni.. Mbak Yunii... Mbak Yuniii....", teriak suara riuh itu. Aku dengar dan aku kenal suara mereka. Yaa itu suara si kecil Iis, Isma, Tiara, Izza, banyak lagi suara anak-anak itu namun yang dominan hanya mereka dan suara laki-laki itu.
Tapi aku tak bisa melihat mereka dengan jelas. Aku pejamkan mataku lalu aku buka kembali, tetap saja. Aku gosok-gosok mataku tapi tetap saja pandanganku kabur. Namun aku masih bisa melihat gerakan bayangan laki-laki dan anak-anak itu walaupun kabur. Melambaikan tangan mereka seraya berkata 'Mbak kesini' sambil membantuku turun dari perahu.
Aku belum paham mimpi itu, aku juga tidak tahu kenapa mereka memanggilku. Apakah ini jawabnya Ya Allah?
---
"Ikuti apa kata hatimu Yun. Gimana katanya?", tanyanya.
"Dia bilang masih ingin di proses ini, tapi...", tak kulanjutkan kata-kata ku itu.
"Tapi kamu masih merasakan sakit itu kan?", tanyanya lagi. Aku hanya menjawabnya dengan anggukan kepala.
"Rasa sakit itu hiraukan saja, anggap tidak pernah ada. Kamu yang mengendalikan keadaan Yun, bukan keadaan yang mengendalikanmu", terangnya.
Aku kaget juga dengan kata-katanya itu. Tapi nyatanya, walau sudah aku coba berbulan-bulan untuk mengendalikannya kenapa tak berhasil. Walaupun aku mengikuti kata hatiku, tapi entah kenapa rasanya belum lega dengan jawabannya.
Akhirnya aku datang ke orang kedua.
Sungguh, kata-katanya membuatku tersentak. Membuatku tersadar dengan apa yang sudah aku lakukan. Ah.. kenapa aku baru cerita sekarang ya, kenapa gak dari dulu aja #nyesel
Akhirnya kuputuskan untuk menerima dan merawat luka itu. Memberinya obat dan memperbannya. Rasa 'sakit'nya berangsur-angsur sembuh. Ah benar juga katanya, "Kau juga harus lebih profesional menjadi dokter untuk dirimu sendiri dan orang lain".
Terimakasih nasehat-nasehatnya ^^
Sampai sekarang aku masih di proses ini, bersyukur masih di sini bersama kalian :). Masih bisa belajar bersama kalian.
Terimakasih Allah sudah mempertemukanku dengan mereka ^^. Dan maaf untuk sebelum-sebelumnya.
ps : aku kangen berproses bersama kalian lagi ^^
*) Tidak memilih adalah sebuah pilihan.
Salah satu penghalang jalan yang kita ciptakan sendiri adalah terlalu banyak memikirkan pilihan-pilihan. Sehingga membuat kita tak melakukan apa-apa. "Jika kita melakukan A, B, atau C sebaiknya kita pikirkan baik-baik", begitulah angan-angan kita. Kemudian kita mulai merenungkannya, namun sama sekali kita tidak memutuskannya. Sebenarnya pada saat itu kita melakukan sesuatu, yaitu memutuskan untuk tidak melakukan apa-apa, maka hasilnyapun bukan apa-apa.
Jangan ditunda, jangan menerka-nerka, jangan ragukan, ketika kesempatan itu ada, ketika degup itu ada, ketika intuisimu muncul, ACT!
**) Bila kamu tidak tahu harus bagaimana, minta tolonglah kepada orang lain, berceritalah kepada mereka.
Kita tidak dapat mengetahui segala hal. Kitapun tidak mampu memecahkan semua persoalan. Ada banyak teman, sahabat, rekan kerja yang dapat kamu ajak untuk memecahkan masalahmu. Mintalah pertolongan mereka. Setidaknya beban perasaanmu akan menjadi ringan dengan bercerita. Dan jangan sampai kau membuang-buang waktu.

0 Komentar