Sebuah Pengakuan (?)

 

Hari ini Matahari tetap bersinar sebagaimana mestinya,
Meski ada saja yang mengeluh karenanya.
Seperti seseorang yang berulang dilarang tapi tetap dengan perasaannya.
Karna seperti itulah cinta, tak tau ujung pangkalnya dan entah kenapa. - BDS


Perbincangan yang serius dengan seorang teman, yang dulu pernah bertemu di persimpangan jalan saat malam menjelang. Seorang teman yang telah menolongku dari kegalauan akan ilmu.

Dan dia yang sudah memecah heningku akan sebuah pertanyaan ‘Haruskah keluar? Lagi?’

- - -

“Gimana dengan mereka? Apa kamu sudah kasih keputusan?”

“Hhhh.. sejujurnya aku masih belum bisa meninggalkan mereka. Masih berat.”

“Tapi kamu tau konsekuensinya kan?”

“Ya aku tau. Tapi bolehkan aku membantu mereka sampai mereka berjalan seperti sedia kala lagi?”

“Bisa sih, kamu bisa membantunya dari jauh kok.”

“Gitu yaa?”, Kok dari jauh sih?

“Kalo aku lihat dari ceritamu, perasaanmu itu kuat. Itu yang tak bisa kamu tinggalkan. Seperti kamu sudah menyatu di dalamnya.”

“.....”, Iya memang. Sungguhkah perasaanku sekuat itu? Benarkah? Bahkan aku sendiri tak seyakin itu, hanya tak bisa mengungkapkannya kenapa.

“Kamu tau kan mana yang benar dan mana yang salah? Kalo kamu sudah berenang ya udah basah basah semua, jangan setengah-setengah!”

“Iya aku tau. Tapi kan aku masih punya batasan kan?”

“Batasan itu tak akan menjaminmu, lihat dulu banyak baiknya apa buruknya?”

“.... Yaa aku tau resikonya, aku tau konsekuensi yang harus aku buat. Tapi untuk sekarang ini aku masih belum menciptakan jawabannya. Beri aku waktu untuk menuntaskannya dengan segera.”

0 Komentar