Kenapa Menulis? Karena Menulis Itu Mengasyikkan!


"Bila kau bukan anak raja, juga bukan anak ulama besar, maka menulislah." (Imam Al Ghazali)

Menulis merupakan kegiatan yang sering kita lakukan. Ketika masih berada di bangku pendidikan pun kehidupan sehari-hari kita masih sering menulis. 

Ya, memang menulis adalah perkara hal yang mudah. Bahkan setiap orang pasti bisa menulis. tergantung ia mau menekuni lebih dalam lagi atau tidak dunia kepenulisan.

Menulis itu seperti teman curhat bagiku. Dia selalu ada di kala senang dan sedihku. Walaupun terkadang ada coretan-coretan gak jelas, tapi aku yakin dengan kata-kata "Tuliskan sekarang juga. Tidak harus bermakna, tapi mungkin suatu saat akan berguna". Dan ternyata benar adanya.


Jika kita terbiasa menulis, kalian pasti akan merasakan ketagihan seperti bermain game. Ingin menulis lagi, lagi dan lagi. Dan ada saja ide yang tiba-tiba muncul, ada saja sesuatu yang ingin dituliskan dan ingin kamu bagikan ke teman-temanmu. 

Selain membuat ketagian, menulis itu juga mengasyikkan lho. Karena kalian bisa bermain rasa di sana. Joni Ariadinata misalnya, seorang penulis buku 'Dari Pemburu ke Terapeutik'. Ia pernah memiliki pengalaman diganggu oleh sekumpulan preman. Ia tidak sanggup berbuat apa-apa untuk menghadapi preman tersebut dan hanya bisa menggigil ketakutan. Namun, begitu ia pulang dan berjumpa dengan kertas dan pena, ia tuangkan semuanya. Ia menggambarkan dirinya sebagai seorang ksatria yang sakti mandraguna. Dengan sekali tendang preman yang mengganggunya lari tunggang langgang.

Lihat, dengan menulis ia bisa merubah perasaannya. Yang awalnya penuh dengan amarah dan emosi, setelah menuliskannya ada perasaan lega. Amarah dan emosi tersebut pun perlahan-lahan sirna dengan sendirinya.

Begitu pun dengan Wahyu Aditya (Wadit), penulis buku 'Sila ke-6: Kreatif sampai Mati'. Di sekolahnya, ada geng yang selalu malak anak-anak kelas lain. Kejadian tersebut tidak hanya terjadi sekali dua kali, namun berkali-kali. Melihat tingkah mereka yang seperti itu, Wadit pun berinisiatif untuk membuat cerita dengan tokoh utama geng tersebut (karena Wadit suka menggambar). Hingga suatu hari, gambar Wadit sampai di tangan geng tersebut. Namun, apa reaksi anak-anak geng tersebut? Mereka malah request cerita dengan tema lain, karena Wadit menggambarkan geng tersebut memiliki kepedulian sosial yang tinggi dan memiliki sikap yang sangat berkebalikan dengan aslinya. Dan mulai saat itu mereka tidak lagi memalak dan bersikap lebih baik.

Lihatlah, bukanka menulis itu mengasyikkan? Apalagi kalau bisa mengajak teman kita untuk berbuat baik kenapa tidak. Malahan menulis jadi pahala investasi kan hehee.


Menulis bukanlah bakat yang lahir sejak kecil, namun menulis itu muncul dari tekad dan keinginan yang kuat dari penulis itu sendiri untuk tetap menulis.

Sekali lagi, menulis itu mengasyikkan karena kita bisa menulis apa saja yang kita inginkan. Mencurahkan segala rasa yang sedang kita rasakan. Menulis juga tidak harus terikat dengan format yang baku, seperti skripsi misalnya. Jujur, saya lebih suka menulis nggak jelas daripada menulis skripsi hihii (tapi skripsi tetap harus diselesaikan). Jangan lupa juga untuk menuliskan sesuatu yang bermanfaat bagi pembaca tulisanmu.

So, coba saja rasakan sendiri, kalau menulis itu mengasyikkan. Tulisla! Dan temukan hal-hal yang mengasyikkan bagimu. Keep writing and keep hamasah!

"Semua penulis akan meninggal, hanya karyanyalah yang akan abadi sepanjang masa. Maka tulislah yang akan membahagiakan dirimu di akhirat." (Ali bin Abi Thalib)

0 Komentar